Bacaan: Hidden Side of A Sindhen

15Apr08

Pernah dengar profesi Sindhen? Pernah mengrenyitkan kening ketika ada seseorang yang memilih jalan hidup sebagai pesinden? Pernah bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi anak seorang sinden?

Hidden Side of A Sindhen

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa ditemukan di buku ini. Sebuah roman yang menceritakan jalan hidup seorang sinden. Sebuah profesi yang sering dipandang miring oleh masyarakat.

Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Bahkan yang membuat buku ini sangat istimewa, adalah bahwa ia ditulis oleh anak dari tokoh utama buku ini. Ya, buku ini ditulis oleh anak seorang sindhen.

Sindhen, bagi yang belum tahu, adalah sebutan bagi penyanyi wanita sebuah orkestra Jawa. Sindhen bisa muncul di pagelaran wayang yang akan menyanyikan syair-syair sesuai pesan yang tersimpan dalam adegan yang dibawakan oleh sang Dalang. Sinden bisa juga sebagai bagian dari sebuah pertunjukan karawitan, pertunjukan yang semata-mata hanya melantunkan lagu-lagu Jawa.

Sinden berbeda dengan ledek. Ledek adalah penari wanita yang muncul dalam pertunjukan ronggeng. Walaupun berbeda dengan ledek, sinden tetap dipandang sebagai profesi wanita yang kurang baik. Penampilan dan suara yang menarik, serta frekuensi bertemu dengan lelaki lain yang sangat tinggi, membuat sinden sering dianggap sebagai perebut suami orang.

Saya sangat beruntung bisa mendapatkan buku ini, bahkan sebelum didistribusikan di toko buku. Saya mendapat buku ini dari seorang teman kantor. Ia ternyata adalah kakak dari sang penulis buku. Bahkan kawan saya ini muncul sebagai tokoh cerita di akhir buku ini.

Salam dari Penulis

Buku Hidden Side of A Shinden adalah novel kesekian yang saya baca, yang mengangkat latar budaya Jawa sebagai wadah terjadinya konflik. “Para Priyayi” karangan Umar Kayam memiliki alur cerita yang rumit namun logis. Lengkap dengan melompat-lompatnya tokoh utama yang diceritakan, serta penggambaran yang kuat adanya perbedaan pola pikir masing-masing tokoh. Ada pula trilogi “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Juga “Burung-burung Manyar” karya YB Mangunwijaya atau Romo Mangun.

Kesamaan dari buku-buku diatas, selain karena latar budaya Jawa, adalah terperangkapnya sang tokoh dalam suatu situasi dan kondisi yang membuat ia terpaksa atau dipaksa mengambil pilihan hidup yang sulit.

Buku Hidden Side of A Shinden ini menceritakan tentang kehidupan seorang wanita Jawa yang berasal dari sebuah dusun. Ia dibentuk oleh lingkungan dengan pola pikir yang nJawani (khas Jawa), mulai dari Ayahnya, Simbahnya (nenek), Ibu Tirinya, sampai pada keluarga besar, puak dan lingkungannya. Kungkungan pola pikir ini amat jender, seperi misalnya: wanita tidak punya hak pilih dalam jodoh, wanita berorientasi pada pengabdian, wanita tidak boleh berbicara mengungkapkan pendapat, wanita tempatnya hanya di dapur dan kasur, dll. Pria didudukkan pada posisi supreme ultimate super power. Apa yang disabdakannya pasti benar dan wajib diterima.

Kungkungan pola pikir ini membawa sang tokoh bernama Sayem alias Slumpring untuk mengakhiri dua pernikahannya secara tragis. Penggambaran fragmen tersebut disampaikan dengan amat baik oleh penulis. Lengkap dengan konflik batin yang dialami sang tokoh. Sepintas, alur hidup tokoh ini tidak akan jauh berbeda dengan takdir yang dijalani berjuta wanita Jawa lainnya. Dipersunting, melahirkan anak, mengurus dapur, dan mengabdikan diri sepenuhnya bagi para suami. Semua itu dijalani tanpa adanya pengakuan dari dunia bahwa wanita adalah seorang manusia. Wanita tak pernah dianggap sebagai seorang manusia secara utuh. Seorang manusia yang memiliki cara berpikir yang unik. Seorang manusia yang memiliki perasaan. Semua dikebiri dengan dogma-dogma khas Jawa seperti: ora ilok, ora pantes cah wadon kaya ngono kuwi, dst dst dst.

Kungkungan pola pikir ini juga dibenturkan dengan kemiskinan. Sebuah benturan yang benar-benar menimbulkan posisi yang sulit bagi pelaku wanita. Pilihan apapun yang ia ambil tidak membawanya ke kehidupan yang lebih baik.

Keberaniannya mengambil profesi tersebut lebih banyak disebabkan oleh dorongan mendobrak kungkungan yang ada. Sayangnya, pendobrakan itu tak berproses seperti Ibu Kartini misalnya. Pendobrakan itu tidak didasari pemikiran yang mendalam. Apalagi pemahaman agama pun bisa dikatakan kurang.

Pesan yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan buku ini adalah bahwa masih banyak lapisan masyarakat kita yang belum tersentuh dakwah Islam. Masih banyak yang memilih jalan bukan Islam dalam hidupnya. Yang mengkhawatirkan, pilihan itu mereka jatuhkan karena memang tidak mengenal Islam. Sehingga tidak tahu, apa dan bagaimana bentuk jalan hidupnya serta konsekuensi yang akan dihadapi di akhirat kelak.

Karena itu pendekatan nasihat haruslah lebih dahulu dikedepankan sepanjang orang yang didakwahi bukan seorang yang dikenal karena kampanyenya untuk menolak syariah.

Pernah bertemu dengan orang yang sangat menjaga makanannya? Misalnya seseorang yang menolak memakan jeroan karena takut kolesterol. Ada pula orang yang tidak mau makan kacang-kacangan karena khawatir terkena asam urat. Juga orang yang berhati-hati dengan makanan manis karena punya sejarah keluarga berpenyakit diabetes.

Ada pula orang yang gemar berolahraga untuk menjaga kesehatan di hari tua. Meninggalkan rokok untuk menjaga paru-paru yang tinggal 35% berfungsi. Atau menjaga aktivitas karena fungsi hatinya sudah tergerogoti. Orang-orang ini paham betul ancaman yang akan menghampiri di masa tua.

Seperti itu pulalah orang yang meninggalkan larangan Allah dan rajin mengerjakan perintah-Nya. Hanya saja, visi hidupnya melebihi kehidupan dunia. Orang-orang seperti ini memiliki ketakutan akan kemurkaan Tuhannya di hari akhir nanti. Mereka khawatir hidupnya akan sia-sia di mata Tuhannya.

Dan bagi orang-orang yang tidak sempat tersentuh dakwah di masa hidupnya, kami mintakan ampunan dari Al-Ghoffar Yang Maha Pengampun sepanjang ia masih menyatakan keislamannya.



One Response to “Bacaan: Hidden Side of A Sindhen”

  1. 1 akangozy

    dmn nech dapetin buku ini…q pngn bgt..
    tlg y mas kl punya link downloadnya…. puengen baca dech


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: