Tercatat dalam Sejarah

19Jan06

Apa sih bedanya orang yang tercatat dalam sejarah, dengan orang yang ingin menjaid bagian dari sejarah?

Setahu saya, orang-orang yang tercatat dalam sejarah adalah orang yang berpegang pada prinsip hidupnya. Entah itu prinsip yang benar ataupun yang salah. Pula, entah dia berhasil memperjuangkan prinsipnya maupun gagal.

Contoh terbesar dalam kategori ini adalah Nabi saya, Muhammad shalallahu alayhi wa sallam. Beliau memperjuangkan prinsip-prinsip tauhid sampai-sampai menembus batas ruang dan waktu. Lihat saja daerah yang terpengaruh Islam (menembus batas ruang) dan pegaruh beliau pun masih terasa sampai berabad-abad lamanya (menembus batas waktu).

Contoh lain adalah Yassar dan istrinya. Beliau mempertahankan prinsipnya sampai menembus ambang kematian. Walaupun beliau tidak merasakan keberhasilan Islam, namun nama beliau tercatat dalam sejarah sebagai syuhada pertama dalam Islam.

Berbeda dengan orang-orang yang ingin menjadi bagian dari sejarah. Mereka berlomba-lomba mendapat perhatian dan pegakuan dari khalayak manusia. Sampai-sampai mereka berusaha mencamtukan nama mereka di Guinnes Book of Record dengan keahlian yang aneh-aneh (lebih sering tidak berguna dalam kehidupan).

Hal yang sama sangat bisa terjadi pada diri dan kehidupan kita. Jika kita berusaha mencapai popularitas dengan sensasi, perhatikanlah.. berapa lama sensasi itu dapat bertahan? Apakah lima atau sepuluh tahun lagi orang-orang masih menyebut nama kita? Disebut pun sebagai apa? Contoh yang baik atau contoh yang buruk?

Sementara di lain sisi, jika kita berkomitmen (istiqomah) pada pendirian kita, dan mendedikasikan diri kita pada prinsip yang kita percayai, maka popularitas itu akan datang dengan sendirinya. Nama kita akan disebut-sebut oleh orang-orang karena kemampuan dan dedikasi kita. Kalau dicontohkan saat ini, mungkin Onno W. Purbo bisa jadi contoh yang cukup baik. Atas dedikasinya lah dia digelari “Guru Bangsa” (setidaknya oleh orang-orang yang seide dengannya). Walaupun orang-orang yang berseberangan pemikiran dengan dia pun tidak sedikit.

Malah biasanya, orang-orang yang berdedikasi dan kompetensi nya telah teruji, justru menghindari popularitas. Alasannya macam2. Bisa jadi popularitas malah mengurangi waktunya yang biasa digunakan untuk riset atau belajar. LIhat Syaikh Albany rahimahullah, beliau sangat bersyukur menjadi tukang servis jam karena memberikan waktu luang yang cukup bagi dirinya untuk mempelajari hadis Nabi shalallahu alayhi wa sallam.

Terkadang saya sendiri melihat, adaa beberapa orang yang namanya sudah kondang beredar di media, komunitas, dan telinga orang banyak. Tapi kompetensinya sangat lemah.

Jadi, mau pilih mana? Popularitas atau dedikasi?



One Response to “Tercatat dalam Sejarah”

  1. 1 beny halfina

    cool
    dedikasi miskin?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: