Oshin

23Des04

Apa sih yang menarik (buat saya) kalau Oshin diputar kembali?

Bagi saya, menonton kembali Oshin tidak sekedar melihat (kembali) perjuangan hidup Oshin yang sedemikian berat. Menonton Oshin bagi saya seperti mengendarai mesin waktu kembali ke masa lalu.

Film Oshin, seingat saya, diputar di TVRI tahun 1980-an. Kurang lebih dua puluh tahun yang lalu. Saat itu TVRi sebagai satu-satunya pilihan bagi kami sekeluarga.

Di sore hari sambil menunggu waktu untuk mandi, kami biasa mengikuti akting Ayako Kobayashi sebagai Oshin yang tak kenal menyerah menghadapi hidup. Mirip seperti ibu saya. Beliau pun penuh optimisme meghadapi hidup walaupun hanya dengan satu ginjal. Ginjal yang satu lagi diangkat ketika beliau masih kuliah dan belum menikah. Dokter pun memvonis ibu saya tidak punya keturunan. Namun qodarullah (kehendak Allah), saya dan abang saya pun lahir. Buah dari optimisme ibu. Sayangnya ketika saya menginjak remaja, sakit ibu bertambah parah, sampai akhirnya beliau meninggal karena komplikasi. Ibu memang selayak Oshin bagi saya (maybe more!!!).

Menonton Oshin bak memutar kembali momen-momen hidup saya. Baik yang menyenangkan maupun tidak. Saat itu, sebagai anak yang belum genap 10 tahun, saya sudah mampu merasakan penderitaan Oshin dan kegigihannya melawan segala keterbatasan. Mulai dari kecil sebagai pelayan, dewasa sebagai pemotong rambut. lalu menikah dan bekerja keras di ladang sampai tangannya kehilangan keterampilan untuk memotong rambut. Berjualan kain walaupun dia nyonya muda. dst dst dst.. sampai menjadi nenek dan memiliki jaringan supermarket di Jepang. Itu seingat saya lho.. maklum anak seumur demikian tentu banyak melewatkan detil yang belum tertangkap di pikiran.

Mungkin bagi Oshin tua, menengok kembali perjalanan hidupnya adalah suatu kebanggaan. Lihatlah sorot matanya ketika berkeliling Jepang menggunakan kereta!! Tersenyum memandang tempat-tempat dimana dia dulu berjuang. Kadang.. masa lalu bisa menjadi sangat manisnya..

Mungkin seperti itu jugalah perasaan ayah saya ketika pulang ke kampungnya di Sumatra sana, setelah 30 tahun lebih hidup di Jawa. Waktu itu, bersama saya, beliau menapaktilasi tempat-tempat bersejarah bagi beliau di masa mudanya. hanya saja kisah hidup beliau tidak sesukses Oshin yang mampu memetik hasil di masa tua. Namun saya tahu, ayah sangat bangga terhadap jalan hidup yang dipilihnya 30 tahun yang lalu. Ayah begitu bangganya mampu mendobrak kebiasaan, kebuntuan, kemapanan yang tertata baku di struktur sosial kemasyarakatannya di masa itu. Ayah sangat bangga terhadap hidupnya. Tanpa menghiraukan sakitnya yang sudah begitu parah (kami berangkat ke Sumatra sehari setelah ayah keluar dari rumah sakit), ayah dengan semangatnya menunjukkan tempat-tempat yang dahulu beliau memiliki pengalaman tertentu, tentunya sambil menceritakan apa yang dulu terjadi di sana. Dan bak memiliki firasat, beliau saat itu berkata, “Mungkin ini kunjunganku ke kampung yang terakhir kalinya. Entah nanti tidak ada kesempatan lagi bagiku untuk kembali ke sini.” Sepulang dari Sumatra, dua tahun kemudian Ayah meninggal dunia.

Kini, dua puluh tahun setelah saya menonton Oshin bersama ayah dan ibu, saya kembali menontonnya tanpa keberadaan mereka berdua. Saya menonton kembali bersama anak dan istri saya, yang tidak pernah bertemu kakek dan neneknya, atau mertuanya. Entah apakah Oshin yang sekarang dapat menginsiprasi anak saya dua puluh tahun lagi.

Terimakasih Oshin.. ceritamu tak hanya hiburan bagiku. Kamu telah mengulang kembali sejarah hidupku. Membawa kembali ingatan masa kecilku. Menghadirkan kembali aroma ruang keluargaku. Memutar kembali suasana batinku. Menyegarkan kembali memoriku. Yang tidak pernah bisa terulang kembali.

Terimakasih Oshin. Nostalgiamu adalah nostalgiaku. Dalam realitas yang berbeda tentunya. Oshin duapuluh tahun lalu adalah Oshin milik Ayah dan Ibu saya. Oshin yang sekarang adalah milik saya. Bagaimana dengan Oshin dua puluh tahun mendatang? Kita tidak akan tahu.. Kita tidak akan pernah tahu.. Kita semua tidak akan pernah tahu…..



4 Responses to “Oshin”

  1. punya film oshin ga?aku udah lama cari ni…tulung d kabari y….t’kyu

  2. 2 beta

    Saya juga lagi mau beli nih. Udah nemu penjualnya, kalo mau kita patungan yook. Sayangnya, link penjualnya lagi broken. Dulu saya nemu di kaskus. Tapi lagi rusak database forumnya.

    Kita tunggu aja kaskus dibenerin.

  3. 3 ti4n

    seperti kembali ke masa lampau dimana segala sesuatu menjadi lebih baik dari pada sekarang, film sekarang dipengarui oleh sinentron2 bodok di tv swasta yg membuat anak2 skrg cepat dewasa dibandingkan dengan dulu hanya ada film oshin, little house,bonansa chips dll..film gitu dibanding dgn skarang gw lebih milih film2 jaman dulu yg telah berlalu itu

  4. Oshin main lagi tuhh di TVRI. senin-jumat jam 08.30 malam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: