Wheres Waldo Hack

 

Sumber: http://mentalfloss.com/article/61589/algorithm-plots-best-path-finding-waldo


beta:

Tips yang menarik untuk dicoba pak Budi…

Originally posted on Padepokan Budi Rahardjo:

Untuk ketigakalinya dalam minggu ini saya mendapat pertanyaan atau keluhan dari beberapa instansi tentang tidak populernya situs (portal, web site, blog) mereka. Ada yang aksesnya dalam satu bulan ini adalah … nol. hi hi hi. Mereka kemudian berencana untuk mendesain ulang situs mereka. Padahal menurut saya bukan di situ masalahnya.

Ada juga orang-orang yang ingin mempromosikan layanan mereka dengan menumpang (ndompleng) situs-situs yang rame, termasuk blog ini. hi hi hi. (Lihat saja ada yang komentarnya OOT.) Topik SEO (Search Engine Optimization) merupakan sebuah hal yang dicari-cari orang. Bahkan ada bisnisnya tersendiri. Jadi masalah mempopulerkan situs atau menghasilkan traffic pengunjung itu merupakan “masalah” bersama.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa masalah utama dari ketidakpopuleran sebuah situs itu adalah informasi (data) yang tersedia tidak berubah untuk waktu yang terlalu lama. Ada situs pemerintahan yang terakhir diperbaharui tiga tahun yang lalu. Tentu saja tidak ada yang ingin mengunjungi situs itu kembali. Sekali mengunjungi – tahun…

Lihat yang asli 181 kata lagi


Ada info menarik seputar pelaksanaan ibadah haji tahun 2011 ini. Kita dapat mengikuti siaran haji Live dari Mekah melalui Youtube. Siaran tersebut hasil kerjasama Youtube dengan Kementerian Budaya dan Informasi Kerajaan Saudi. Kerja sama ini sudah dimulai sejak awal tahun 2011 ketika Youtube menyiarkan even Ramadhan di Mekah.

Google menampilkan rilis beritanya lewat dua blog resmi: Googleblog dan Blog Youtube Global.


Pengalaman saya menggunakan Mail Merge pada Microsoft Excel 2007, saya tulis di blog yang ini.


Jika kita mencetak dengan Printer Epson C90, sebuah jendela aplikasi monitor printer akan muncul dengan menampilkan informasi seputar pencetakan, yaitu  status tinta printer, spooling progres, dll. Pengalaman saya menggunakan Printer Epson C 90 ini, jendela monitor printer tersebut tidak dapat ditutup setelah pencetakan selesai.

Jendela yang menjengkelkan

Epson C90 nagging screen yang menjengkelkan itu...

Tadinya saya menggunakan Sistem Operasi Microsoft Windows XP Service Pack (SP) 2. Dengan XP SP 2 ini, ada beberapa trouble yang terjadi pada printer Epson C90. Untuk menampilkan Print Properties dari Microsoft Words saja butuh waktu loading yang lama. Itu trouble sebelum mencetak atau ngeprint. Setelah mencetak, trouble yang muncul adalah munculnya jendela aplikasi Epson yang tidak bisa ditutup. Jendela itu juga menutupi aplikasi lain yang sedang saya jalankan. Tingkah lakunya persis seperti sebuah aplikasi yang di-set Always Show On Top seperti pada Winamp atau Windows Media Player. Jika di-close, jendela ini akan muncul lagi dan lagi. Mematikan aplikasi lewat ask Manager juga sia-sia. Di Task Manager, terlihat ada 3 buah process E_FARNBZP.EXE. Jika salah satu di-End Process atau End Process Tree, jendela itu masih tetap saja muncul.

Task Manager juga tak mampu membunuhnya..

Task Manager juga tak mampu membunuhnya..

Saya mencoba mencari solusi masalah ini di internet. Salah satu saran yang tersedia adalah dengan menginstall ulang Windows (**doh! -tepok jidat- ini karena nggak ada solusi yang lebih baik). Tapi hasilnya pun tidak terlalu memuaskan. Setelah menginstall Windows XP SP 3, masalah nagging screen ini masih saja muncul. Untungnya, masalah loading printer yang lama sudah dapat teratasi.

Karena tidak memiliki solusi untuk mengatasi masalah ini, saya menggunakan pendekatan lain. Solusi yang saya tempuh adalah bagaiaman memudahkan saya untuk mematikan aplikasi tersebut kalau sudah bertingkah menjengkelkan. Saya membuat sebuah file batch process (file berekstensi .bat) yang berisi perintah mematikan aplikasi yang menjengkelkan tersebut. File tersebut saya letakkan di desktop agar lebih mudah di-klik untuk menjalankannya.

Listingnya sederhana:

taskkill /f /im E_FARNBZP.EXE

Bagaimanapun juga, saya masih menantikan solusi untuk mengatasi masalah, bukan menghadapi masalah. Jadi kalau ada yang punya saran cespleng, kasih tahu ya!


Salah kaprah, salah istilah, salah sebut. Semuanya sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Bangsa ini memang senang dengan hal-hal yang mudah populer. Walaupun di kemudian hari ditemukan bahwa hal yang populer itu salah, reluktansi untuk kembali pada kebenaran sudah tertancap pada masyarakat.

Sebagian kalangan (revivalis?) lebih senang menggunakan istilah hak salin daripada hak cipta. Alasannya, hak cipta mustinya terjemahan dari istilah createright bukan copyright.

Bagi mereka yang tidak cocok dengan copyright, tersedia copyleft. Yang tidak cocok keduanya, bisa mencoba CreativeCommon License. Huenak tho?

Nggak cocok dengan yang manapun, bisa buat lisensi sendiri. Bagi kaum muslim, ada istilah “Kaum muslimin itu menepati perjanjiannya” atau “Muslim itu menjaga syarat-syarat perjanjian”. Maknanya, perjanjian (orang sekarang bilang lisensi) apapun yang digunakan, selama tidak dilarang agama, harus ditepati.

Bahasa kita memang sangat terbatas. Sampai2 Remy Sylado menulis buku berjudul “9 Dari 10 Bahasa Indonesia Adalah Asing“. (Mm.. jangan salah kalau nama penulis yang tercetak di cover adalah Alif Danya Munsyi. Itu cuman salah satu nama pena Japi Tambayong, sebagaimana Remy Sylado pun sebuah nama pena). Tapi apa memang salah istilah terbentuk karena keterbatasan bahasa?

Bisa jadi juga bangsa kita terlalu menggampangkan, tanpa berusaha memahami pemahaman mendasar masalah yang dihadapi. Dengan menggampangkan pengistilahan, masyarakat kita terbiasa dan dibiasakan melihat oknum-oknum yang memanfaatkan kedangkalan istilah untuk menggampangkan (yang berujung menyelewengkan).

Ahmad Tohari (ya, Ahmad Tohari yang “itu”) menangkap kegelisahan yang sama. Ia pun menulis (dan menuntut) penggunaan istilah pemandatan instead of pemilihan dalam frasa pemilihan umum. Tulisan beliau dimiat dalam Kolom Resonansi Republika, Senin 10 Maret 2008.

Senin, 10 Maret 2008

Pemilihan atau Pemandatan?

Warga desa saya setahun yang lalu menyelenggarakan pemilihan kepala desa dan alhamdulillah berlangsung tertib. Setelah berlangsung pemilihan kepala desa, baru-baru ini kami memilih bupati dan wakil bupati. Dan, Juni nanti, kami juga akan memilih gubernur dan wakilnya. Pemilu legislatif yang disusul dengan pemilihan presiden dan wakil presiden akan berlangsung pada 2009 mendatang.

Lelah? Ya, bukan hanya lelah dan jenuh. Lebih dari itu. Kebanyakan pemilih, kecuali mereka yang mendapat penghasilan dari percaloan, seperti tidak memperoleh manfaat apa pun. Malah belum apa-apa sudah pesimistis.

Sebab, pemilihan-pemilihan yang menghabiskan uang triliunan itu dipercaya tidak akan menghasilkan perubahan ke arah perbaikan. Kehidupan terasa kian berat, masa depan tak menentu karena perilaku elite penguasa tidak akan berubah dengan adanya pemilihan. Bahkan, masyarakat umum merasakan keadaan sekarang kian hari kian buruk. Janji-janji para calon, baik eksekutif maupun legislatif, yang dikumandangkan dalam kampanye pemilihan sebagian besar tidak ditepati.

Kinerja serta perilaku para calon terpilih diyakini akan sama saja; sering mengecewakan masyarakat yang telah membayar pajak dan memberikan suara buat mereka. Umumnya, mereka masih memperlihatkan sikap sebagai priyayi dan memandang masyarakat pemilih hanya sebagai objek kekuasaan. Sikap seperti ini pun diperlihatkan oleh orang-orang partai. Padahal, partai adalah sarana kehidupan demokrasi yang utama. Tapi, orang-orang partai sering bersikap sebagai priyayi politik dan menganggap pemilih sebagai wong cilik yang ada dalam wilayah kekuasaan mereka.

Belum lama ini, di Purwokerto, diselenggarakan diskusi terbatas mengenai pilgub Jateng. Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Mapilu PWI Jateng itu, muncul pikiran yang mengkritisi kata ‘pemilihan’ dalam kaitannya dengan pemilu. Apakah kata ‘pemilihan’ ini cukup baik untuk mencapai substansi kegiatan yang ada, yakni suatu proses menunjuk seseorang untuk mewakili aspirasi dan kepentingan warga dalam segala bentuk kekuasaan negara? Sangatlah jelas kata ‘pemilihan’ ini merupakan terjemahan kata ‘vote’ dalam bahasa Inggris. Jadi, pertanyaannya bisa disederhanakan, apakah dalam kaitan dengan pemilu, kata ‘pemilihan’ cukup baik digunakan sebagai terjemah kata ‘vote’?

Kosakata ‘vote’ tentu tidak sama dengan kosakata ‘select’ atau ‘choose’ atau juga ‘assort’ yang secara gampang ketiganya berarti memilih. Tapi, mengapa di negara maju sana orang memilih kata ‘vote’ dan bukan ‘choose’ atau ‘select’?

Sebabnya, kosakata ‘vote’ memang kurang memadai bila hanya dipahami sebagai ‘memilih’. Substansi to vote adalah menentukan orang untuk diberi mandat. Jadi, pemilihan bupati misalnya, adalah kegiatan untuk menentukan satu orang di antara banyak calon yang akan diberi mandat kekuasaan menjadi bupati. Ini sangat berbeda dengan pemilihan artis paling kaya atau pembanyol paling lucu misalnya, karena dalam pemilihan ini tidak ada substansi pemberian suatu mandat. Tapi, mengapa keduanya sama-sama menggunakan kata ‘pemilihan’?

Ketidaktepatan dalam hal pemilihan kata ini bisa berakibat buruk. Bila dalam kegiatan pemilihan-pemilihan itu tidak disertai kesadaran pemberian mandat kekuasaan dari pihak pemilih, dan penerimaannya sebagai amanat oleh si terpilih. Bila terjadi demikian, pemilihan-pemilihan umum yang mahal itu jelas tidak mencapai substansi atau maksudnya. Tapi, ironisnya memang itulah yang terjadi di tengah masyarakat bangsa ini. Penggunaan hak pilih tidak disertai kesadaran pemberian mandat kekuasaan. Dan, yang terpilih tidak merasa menerima mandat itu. Kebanyakan pemilih hanya memberikan suara berdasarkan kepatuhan kepada pemimpin, pejah-gesang ndherek, sami’na wa atho’na. Bahkan, dalam situasi yang sudah sangat pragmatis ini banyak pemilih yang sengaja memberikan suara demi uang yang tak seberapa.

Kalau sudah seperti ini, apakah arti pemilu? Jelas maksudnya, yakni pemberian mandat kekuasaan dan penerimaannya sebagai amanat tidak akan tercapai. Tingkat keterwakilan pemilih dalam kekuasaan negara yang seharusnya diwakili oleh mereka yang dipilih pasti sangat rendah. Pemilih pun merasa tidak punya hak kontrol atas kekuasaan miliknya yang telah dimandatkan kepada si terpilih. Sebaliknya, si terpilih tidak perlu merasa mengemban mandat kekuasaan dari pemilih sehingga pertanggungjawaban akan dilakukan seenaknya. Inilah yang terjadi dengan pemilu-pemilu kita dari tingkat desa sampai ke tingkat nasional; suatu pemborosan luar biasa dan tujuan sejatinya tidak akan pernah tercapai.

Menyadari kenyataan ini dalam diskusi terbatas itu dikemukakan gagasan untuk mengganti kata pemilihan dengan kata pemandatan. Memang, pada awalnya akan terdengar janggal karena kita sudah sangat terbiasa dengan kata pemilihan. Namun, gagasan ini patut dipertimbangkan bila kegiatan pemilu yang amat mahal itu bisa mencapai maksud yang sebenarnya. Ya, memilih calon anggota legislatif atau eksekutif jelas berbeda dengan memilih pelawak atau badut. Karena memilih yang pertama punya substansi pemberian mandat. Sedangkan yang kedua, tidak. Mari kita renungkan.

(Ahmad Tohari )


Berhubung integrasi seluruh website indosat ke indosatcommunity.com, maka lib-matrixsms dan lib-mentarisms yang disediakan di website ini otomatis sudah tidak dapat digunakan lagi.

Dua library php yang saya tulis itu befungsi sebagai wrapper dari fasilitas sms gratis di http://www.klub-mentari.com dan http://www.matrix-centro.com. Sehingga ketika dua alamat itu sudah tidak lagi menyediakan fasilitas sms gratis, otomatis library saya juga jadi unusable.

* * *

√ Lalu kenapa saya tidak segera menulis lib wrapper untuk sms gratis dari http://www.indosatcommunity.com? Ada beberapa alasan:

  1. Lagi sibuk di kantor :D alesan..
  2. Fasilitas sms gratis di indosatcommunity.com menurut saya belum reliable. Beberapa kali saya mencoba, sms tidak terkirim ke tujuan. Jadi buat apa membuat skrip yang tidak jalan? Malah saya bisa kena komplen para pengguna skrip. :D Lihat update di bawah.
  3. Ada beberapa fitur yang ingin saya tambahkan sesuai rencana dulu.
  4. Kenapa harus indosat melulu? Dimungkinkan juga untuk menulis wrapper untuk situs lain yang menyediakan sms gratis.

√ Lalu bagaimana kalau udah ngebet pengen sms-an gratis? Ini ada beberapa solusi:

  1. Pake twitter.com. Hanya bisa sesama member. Apalagi kalo tinggal di US (pake short number 40404, bisa sepuasnya!)
  2. Pake XL Instant Messenger, gratis untuk XL doang. Sehari bisa kirim 20 sms.
  3. Pake Chikka. Tapi hanya bisa sms gratis ke sesama member aja. (aku belum njajal, baru register doang).
  4. Pake SMSQta. Juga hanya gratis sesama member. (aku juga belum njajal).
  5. Ada yang bisa nambahin?

Mudah2an sih, klarifikasi ini bisa memperjelas bagi Anda yang ingin menggunakan skrip saya. It was working, but it is not now. Silahkan merujuk ke komentar-komentar dari pengguna yang puas.

Update: Pengiriman sms via http://www.indosatcommunity.com/ sudah bisa. Malah ada fitur keycodenya segala.




Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.