Ada info menarik seputar pelaksanaan ibadah haji tahun 2011 ini. Kita dapat mengikuti siaran haji Live dari Mekah melalui Youtube. Siaran tersebut hasil kerjasama Youtube dengan Kementerian Budaya dan Informasi Kerajaan Saudi. Kerja sama ini sudah dimulai sejak awal tahun 2011 ketika Youtube menyiarkan even Ramadhan di Mekah.

Google menampilkan rilis beritanya lewat dua blog resmi: Googleblog dan Blog Youtube Global.


Pengalaman saya menggunakan Mail Merge pada Microsoft Excel 2007, saya tulis di blog yang ini.


Jika kita mencetak dengan Printer Epson C90, sebuah jendela aplikasi monitor printer akan muncul dengan menampilkan informasi seputar pencetakan, yaitu  status tinta printer, spooling progres, dll. Pengalaman saya menggunakan Printer Epson C 90 ini, jendela monitor printer tersebut tidak dapat ditutup setelah pencetakan selesai.

Jendela yang menjengkelkan

Epson C90 nagging screen yang menjengkelkan itu...

Tadinya saya menggunakan Sistem Operasi Microsoft Windows XP Service Pack (SP) 2. Dengan XP SP 2 ini, ada beberapa trouble yang terjadi pada printer Epson C90. Untuk menampilkan Print Properties dari Microsoft Words saja butuh waktu loading yang lama. Itu trouble sebelum mencetak atau ngeprint. Setelah mencetak, trouble yang muncul adalah munculnya jendela aplikasi Epson yang tidak bisa ditutup. Jendela itu juga menutupi aplikasi lain yang sedang saya jalankan. Tingkah lakunya persis seperti sebuah aplikasi yang di-set Always Show On Top seperti pada Winamp atau Windows Media Player. Jika di-close, jendela ini akan muncul lagi dan lagi. Mematikan aplikasi lewat ask Manager juga sia-sia. Di Task Manager, terlihat ada 3 buah process E_FARNBZP.EXE. Jika salah satu di-End Process atau End Process Tree, jendela itu masih tetap saja muncul.

Task Manager juga tak mampu membunuhnya..

Task Manager juga tak mampu membunuhnya..

Saya mencoba mencari solusi masalah ini di internet. Salah satu saran yang tersedia adalah dengan menginstall ulang Windows (**doh! -tepok jidat- ini karena nggak ada solusi yang lebih baik). Tapi hasilnya pun tidak terlalu memuaskan. Setelah menginstall Windows XP SP 3, masalah nagging screen ini masih saja muncul. Untungnya, masalah loading printer yang lama sudah dapat teratasi.

Karena tidak memiliki solusi untuk mengatasi masalah ini, saya menggunakan pendekatan lain. Solusi yang saya tempuh adalah bagaiaman memudahkan saya untuk mematikan aplikasi tersebut kalau sudah bertingkah menjengkelkan. Saya membuat sebuah file batch process (file berekstensi .bat) yang berisi perintah mematikan aplikasi yang menjengkelkan tersebut. File tersebut saya letakkan di desktop agar lebih mudah di-klik untuk menjalankannya.

Listingnya sederhana:

taskkill /f /im E_FARNBZP.EXE

Bagaimanapun juga, saya masih menantikan solusi untuk mengatasi masalah, bukan menghadapi masalah. Jadi kalau ada yang punya saran cespleng, kasih tahu ya!


Salah kaprah, salah istilah, salah sebut. Semuanya sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Bangsa ini memang senang dengan hal-hal yang mudah populer. Walaupun di kemudian hari ditemukan bahwa hal yang populer itu salah, reluktansi untuk kembali pada kebenaran sudah tertancap pada masyarakat.

Sebagian kalangan (revivalis?) lebih senang menggunakan istilah hak salin daripada hak cipta. Alasannya, hak cipta mustinya terjemahan dari istilah createright bukan copyright.

Bagi mereka yang tidak cocok dengan copyright, tersedia copyleft. Yang tidak cocok keduanya, bisa mencoba CreativeCommon License. Huenak tho?

Nggak cocok dengan yang manapun, bisa buat lisensi sendiri. Bagi kaum muslim, ada istilah “Kaum muslimin itu menepati perjanjiannya” atau “Muslim itu menjaga syarat-syarat perjanjian”. Maknanya, perjanjian (orang sekarang bilang lisensi) apapun yang digunakan, selama tidak dilarang agama, harus ditepati.

Bahasa kita memang sangat terbatas. Sampai2 Remy Sylado menulis buku berjudul “9 Dari 10 Bahasa Indonesia Adalah Asing“. (Mm.. jangan salah kalau nama penulis yang tercetak di cover adalah Alif Danya Munsyi. Itu cuman salah satu nama pena Japi Tambayong, sebagaimana Remy Sylado pun sebuah nama pena). Tapi apa memang salah istilah terbentuk karena keterbatasan bahasa?

Bisa jadi juga bangsa kita terlalu menggampangkan, tanpa berusaha memahami pemahaman mendasar masalah yang dihadapi. Dengan menggampangkan pengistilahan, masyarakat kita terbiasa dan dibiasakan melihat oknum-oknum yang memanfaatkan kedangkalan istilah untuk menggampangkan (yang berujung menyelewengkan).

Ahmad Tohari (ya, Ahmad Tohari yang “itu”) menangkap kegelisahan yang sama. Ia pun menulis (dan menuntut) penggunaan istilah pemandatan instead of pemilihan dalam frasa pemilihan umum. Tulisan beliau dimiat dalam Kolom Resonansi Republika, Senin 10 Maret 2008.

Senin, 10 Maret 2008

Pemilihan atau Pemandatan?

Warga desa saya setahun yang lalu menyelenggarakan pemilihan kepala desa dan alhamdulillah berlangsung tertib. Setelah berlangsung pemilihan kepala desa, baru-baru ini kami memilih bupati dan wakil bupati. Dan, Juni nanti, kami juga akan memilih gubernur dan wakilnya. Pemilu legislatif yang disusul dengan pemilihan presiden dan wakil presiden akan berlangsung pada 2009 mendatang.

Lelah? Ya, bukan hanya lelah dan jenuh. Lebih dari itu. Kebanyakan pemilih, kecuali mereka yang mendapat penghasilan dari percaloan, seperti tidak memperoleh manfaat apa pun. Malah belum apa-apa sudah pesimistis.

Sebab, pemilihan-pemilihan yang menghabiskan uang triliunan itu dipercaya tidak akan menghasilkan perubahan ke arah perbaikan. Kehidupan terasa kian berat, masa depan tak menentu karena perilaku elite penguasa tidak akan berubah dengan adanya pemilihan. Bahkan, masyarakat umum merasakan keadaan sekarang kian hari kian buruk. Janji-janji para calon, baik eksekutif maupun legislatif, yang dikumandangkan dalam kampanye pemilihan sebagian besar tidak ditepati.

Kinerja serta perilaku para calon terpilih diyakini akan sama saja; sering mengecewakan masyarakat yang telah membayar pajak dan memberikan suara buat mereka. Umumnya, mereka masih memperlihatkan sikap sebagai priyayi dan memandang masyarakat pemilih hanya sebagai objek kekuasaan. Sikap seperti ini pun diperlihatkan oleh orang-orang partai. Padahal, partai adalah sarana kehidupan demokrasi yang utama. Tapi, orang-orang partai sering bersikap sebagai priyayi politik dan menganggap pemilih sebagai wong cilik yang ada dalam wilayah kekuasaan mereka.

Belum lama ini, di Purwokerto, diselenggarakan diskusi terbatas mengenai pilgub Jateng. Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Mapilu PWI Jateng itu, muncul pikiran yang mengkritisi kata ‘pemilihan’ dalam kaitannya dengan pemilu. Apakah kata ‘pemilihan’ ini cukup baik untuk mencapai substansi kegiatan yang ada, yakni suatu proses menunjuk seseorang untuk mewakili aspirasi dan kepentingan warga dalam segala bentuk kekuasaan negara? Sangatlah jelas kata ‘pemilihan’ ini merupakan terjemahan kata ‘vote’ dalam bahasa Inggris. Jadi, pertanyaannya bisa disederhanakan, apakah dalam kaitan dengan pemilu, kata ‘pemilihan’ cukup baik digunakan sebagai terjemah kata ‘vote’?

Kosakata ‘vote’ tentu tidak sama dengan kosakata ‘select’ atau ‘choose’ atau juga ‘assort’ yang secara gampang ketiganya berarti memilih. Tapi, mengapa di negara maju sana orang memilih kata ‘vote’ dan bukan ‘choose’ atau ‘select’?

Sebabnya, kosakata ‘vote’ memang kurang memadai bila hanya dipahami sebagai ‘memilih’. Substansi to vote adalah menentukan orang untuk diberi mandat. Jadi, pemilihan bupati misalnya, adalah kegiatan untuk menentukan satu orang di antara banyak calon yang akan diberi mandat kekuasaan menjadi bupati. Ini sangat berbeda dengan pemilihan artis paling kaya atau pembanyol paling lucu misalnya, karena dalam pemilihan ini tidak ada substansi pemberian suatu mandat. Tapi, mengapa keduanya sama-sama menggunakan kata ‘pemilihan’?

Ketidaktepatan dalam hal pemilihan kata ini bisa berakibat buruk. Bila dalam kegiatan pemilihan-pemilihan itu tidak disertai kesadaran pemberian mandat kekuasaan dari pihak pemilih, dan penerimaannya sebagai amanat oleh si terpilih. Bila terjadi demikian, pemilihan-pemilihan umum yang mahal itu jelas tidak mencapai substansi atau maksudnya. Tapi, ironisnya memang itulah yang terjadi di tengah masyarakat bangsa ini. Penggunaan hak pilih tidak disertai kesadaran pemberian mandat kekuasaan. Dan, yang terpilih tidak merasa menerima mandat itu. Kebanyakan pemilih hanya memberikan suara berdasarkan kepatuhan kepada pemimpin, pejah-gesang ndherek, sami’na wa atho’na. Bahkan, dalam situasi yang sudah sangat pragmatis ini banyak pemilih yang sengaja memberikan suara demi uang yang tak seberapa.

Kalau sudah seperti ini, apakah arti pemilu? Jelas maksudnya, yakni pemberian mandat kekuasaan dan penerimaannya sebagai amanat tidak akan tercapai. Tingkat keterwakilan pemilih dalam kekuasaan negara yang seharusnya diwakili oleh mereka yang dipilih pasti sangat rendah. Pemilih pun merasa tidak punya hak kontrol atas kekuasaan miliknya yang telah dimandatkan kepada si terpilih. Sebaliknya, si terpilih tidak perlu merasa mengemban mandat kekuasaan dari pemilih sehingga pertanggungjawaban akan dilakukan seenaknya. Inilah yang terjadi dengan pemilu-pemilu kita dari tingkat desa sampai ke tingkat nasional; suatu pemborosan luar biasa dan tujuan sejatinya tidak akan pernah tercapai.

Menyadari kenyataan ini dalam diskusi terbatas itu dikemukakan gagasan untuk mengganti kata pemilihan dengan kata pemandatan. Memang, pada awalnya akan terdengar janggal karena kita sudah sangat terbiasa dengan kata pemilihan. Namun, gagasan ini patut dipertimbangkan bila kegiatan pemilu yang amat mahal itu bisa mencapai maksud yang sebenarnya. Ya, memilih calon anggota legislatif atau eksekutif jelas berbeda dengan memilih pelawak atau badut. Karena memilih yang pertama punya substansi pemberian mandat. Sedangkan yang kedua, tidak. Mari kita renungkan.

(Ahmad Tohari )


Berhubung integrasi seluruh website indosat ke indosatcommunity.com, maka lib-matrixsms dan lib-mentarisms yang disediakan di website ini otomatis sudah tidak dapat digunakan lagi.

Dua library php yang saya tulis itu befungsi sebagai wrapper dari fasilitas sms gratis di http://www.klub-mentari.com dan http://www.matrix-centro.com. Sehingga ketika dua alamat itu sudah tidak lagi menyediakan fasilitas sms gratis, otomatis library saya juga jadi unusable.

* * *

√ Lalu kenapa saya tidak segera menulis lib wrapper untuk sms gratis dari http://www.indosatcommunity.com? Ada beberapa alasan:

  1. Lagi sibuk di kantor :D alesan..
  2. Fasilitas sms gratis di indosatcommunity.com menurut saya belum reliable. Beberapa kali saya mencoba, sms tidak terkirim ke tujuan. Jadi buat apa membuat skrip yang tidak jalan? Malah saya bisa kena komplen para pengguna skrip. :D Lihat update di bawah.
  3. Ada beberapa fitur yang ingin saya tambahkan sesuai rencana dulu.
  4. Kenapa harus indosat melulu? Dimungkinkan juga untuk menulis wrapper untuk situs lain yang menyediakan sms gratis.

√ Lalu bagaimana kalau udah ngebet pengen sms-an gratis? Ini ada beberapa solusi:

  1. Pake twitter.com. Hanya bisa sesama member. Apalagi kalo tinggal di US (pake short number 40404, bisa sepuasnya!)
  2. Pake XL Instant Messenger, gratis untuk XL doang. Sehari bisa kirim 20 sms.
  3. Pake Chikka. Tapi hanya bisa sms gratis ke sesama member aja. (aku belum njajal, baru register doang).
  4. Pake SMSQta. Juga hanya gratis sesama member. (aku juga belum njajal).
  5. Ada yang bisa nambahin?

Mudah2an sih, klarifikasi ini bisa memperjelas bagi Anda yang ingin menggunakan skrip saya. It was working, but it is not now. Silahkan merujuk ke komentar-komentar dari pengguna yang puas.

Update: Pengiriman sms via http://www.indosatcommunity.com/ sudah bisa. Malah ada fitur keycodenya segala.


Untuk coding yang ringan-ringan saja (seperti lib-indosatcommunity? :P), saya pilih menggunakan web server lighttpd. Biarpun ringan, kabarnya server youtube, wikipedia dan meebo menggunakan lighttpd lho, bukannya apache yang boros resource itu. Pun fitur yang tersedia sudah mencukupi kebutuhan saya. Instalasinya sangat mudah, cukup dengan sudo apt-get install lighttpd plus beberapa paket instalasi untuk mysql database server.

Saya tidak ingat apakah instalasi lighttpd default sudah termasuk curl, tapi yang jelas kalau pun ngoprek dikit nggak terlalu sulit. Buktinya curl sekarang sudah tersedia di lighttpd saya.

Nah, untuk menyederhanakan tugas dan meminimalkan penggunaan sudo, saya mengaktifkan userdir pada lighttpd. Sehingga saya tidak perlu menggunakan sudo untuk mengedit file-file project aplikasi web-based yang saya kembangkan. Defaultnya, mod userdir tidak aktif.

Berikut ini perintahnya:

Pastikan mod userdir sudah ada di /etc/lighttpd/conf-available

$ ls /etc/lighttpd/conf-available
10-auth.conf 10-fastcgi.conf 10-simple-vhost.conf 10-ssl.conf README
10-cgi.conf 10-proxy.conf 10-ssi.conf 10-userdir.conf

$ sudo /usr/sbin/lighty-enable-mod

ketikkan: userdir

$ sudo /etc/init.d/lighttpd force-reload
$ mkdir ~/public_html
$ chmod 755 public_html
$ cd ~/public_html
$ vi index.php
<?php phpinfo(); >?

buka di browser http://localhost/~username

Jadi deh. Dengan cara ini, kita bisa menyediakan lingkungan yang memadai bagi para programmer web untuk memiliki area development yang terisolasi. Kita tidak perlu memberikan privilege lebih pada programmer, sekaligus memudahkan programmer untuk tidak kepentok dalam menggunakan fasilitas2 yang membutuhkan campur tangan administrator.

Selamat coding!

Salam,
dari yang lagi asyik ngulik2 extjs
thanks to gravierid a.k.a infidra atas rekomendasi extjs-nya.


Pernah dengar profesi Sindhen? Pernah mengrenyitkan kening ketika ada seseorang yang memilih jalan hidup sebagai pesinden? Pernah bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi anak seorang sinden?

Hidden Side of A Sindhen

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa ditemukan di buku ini. Sebuah roman yang menceritakan jalan hidup seorang sinden. Sebuah profesi yang sering dipandang miring oleh masyarakat.

Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Bahkan yang membuat buku ini sangat istimewa, adalah bahwa ia ditulis oleh anak dari tokoh utama buku ini. Ya, buku ini ditulis oleh anak seorang sindhen.

Sindhen, bagi yang belum tahu, adalah sebutan bagi penyanyi wanita sebuah orkestra Jawa. Sindhen bisa muncul di pagelaran wayang yang akan menyanyikan syair-syair sesuai pesan yang tersimpan dalam adegan yang dibawakan oleh sang Dalang. Sinden bisa juga sebagai bagian dari sebuah pertunjukan karawitan, pertunjukan yang semata-mata hanya melantunkan lagu-lagu Jawa.

Sinden berbeda dengan ledek. Ledek adalah penari wanita yang muncul dalam pertunjukan ronggeng. Walaupun berbeda dengan ledek, sinden tetap dipandang sebagai profesi wanita yang kurang baik. Penampilan dan suara yang menarik, serta frekuensi bertemu dengan lelaki lain yang sangat tinggi, membuat sinden sering dianggap sebagai perebut suami orang.

Saya sangat beruntung bisa mendapatkan buku ini, bahkan sebelum didistribusikan di toko buku. Saya mendapat buku ini dari seorang teman kantor. Ia ternyata adalah kakak dari sang penulis buku. Bahkan kawan saya ini muncul sebagai tokoh cerita di akhir buku ini.

Salam dari Penulis

Buku Hidden Side of A Shinden adalah novel kesekian yang saya baca, yang mengangkat latar budaya Jawa sebagai wadah terjadinya konflik. “Para Priyayi” karangan Umar Kayam memiliki alur cerita yang rumit namun logis. Lengkap dengan melompat-lompatnya tokoh utama yang diceritakan, serta penggambaran yang kuat adanya perbedaan pola pikir masing-masing tokoh. Ada pula trilogi “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Juga “Burung-burung Manyar” karya YB Mangunwijaya atau Romo Mangun.

Kesamaan dari buku-buku diatas, selain karena latar budaya Jawa, adalah terperangkapnya sang tokoh dalam suatu situasi dan kondisi yang membuat ia terpaksa atau dipaksa mengambil pilihan hidup yang sulit.

Buku Hidden Side of A Shinden ini menceritakan tentang kehidupan seorang wanita Jawa yang berasal dari sebuah dusun. Ia dibentuk oleh lingkungan dengan pola pikir yang nJawani (khas Jawa), mulai dari Ayahnya, Simbahnya (nenek), Ibu Tirinya, sampai pada keluarga besar, puak dan lingkungannya. Kungkungan pola pikir ini amat jender, seperi misalnya: wanita tidak punya hak pilih dalam jodoh, wanita berorientasi pada pengabdian, wanita tidak boleh berbicara mengungkapkan pendapat, wanita tempatnya hanya di dapur dan kasur, dll. Pria didudukkan pada posisi supreme ultimate super power. Apa yang disabdakannya pasti benar dan wajib diterima.

Kungkungan pola pikir ini membawa sang tokoh bernama Sayem alias Slumpring untuk mengakhiri dua pernikahannya secara tragis. Penggambaran fragmen tersebut disampaikan dengan amat baik oleh penulis. Lengkap dengan konflik batin yang dialami sang tokoh. Sepintas, alur hidup tokoh ini tidak akan jauh berbeda dengan takdir yang dijalani berjuta wanita Jawa lainnya. Dipersunting, melahirkan anak, mengurus dapur, dan mengabdikan diri sepenuhnya bagi para suami. Semua itu dijalani tanpa adanya pengakuan dari dunia bahwa wanita adalah seorang manusia. Wanita tak pernah dianggap sebagai seorang manusia secara utuh. Seorang manusia yang memiliki cara berpikir yang unik. Seorang manusia yang memiliki perasaan. Semua dikebiri dengan dogma-dogma khas Jawa seperti: ora ilok, ora pantes cah wadon kaya ngono kuwi, dst dst dst.

Kungkungan pola pikir ini juga dibenturkan dengan kemiskinan. Sebuah benturan yang benar-benar menimbulkan posisi yang sulit bagi pelaku wanita. Pilihan apapun yang ia ambil tidak membawanya ke kehidupan yang lebih baik.

Keberaniannya mengambil profesi tersebut lebih banyak disebabkan oleh dorongan mendobrak kungkungan yang ada. Sayangnya, pendobrakan itu tak berproses seperti Ibu Kartini misalnya. Pendobrakan itu tidak didasari pemikiran yang mendalam. Apalagi pemahaman agama pun bisa dikatakan kurang.

Pesan yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan buku ini adalah bahwa masih banyak lapisan masyarakat kita yang belum tersentuh dakwah Islam. Masih banyak yang memilih jalan bukan Islam dalam hidupnya. Yang mengkhawatirkan, pilihan itu mereka jatuhkan karena memang tidak mengenal Islam. Sehingga tidak tahu, apa dan bagaimana bentuk jalan hidupnya serta konsekuensi yang akan dihadapi di akhirat kelak.

Karena itu pendekatan nasihat haruslah lebih dahulu dikedepankan sepanjang orang yang didakwahi bukan seorang yang dikenal karena kampanyenya untuk menolak syariah.

Pernah bertemu dengan orang yang sangat menjaga makanannya? Misalnya seseorang yang menolak memakan jeroan karena takut kolesterol. Ada pula orang yang tidak mau makan kacang-kacangan karena khawatir terkena asam urat. Juga orang yang berhati-hati dengan makanan manis karena punya sejarah keluarga berpenyakit diabetes.

Ada pula orang yang gemar berolahraga untuk menjaga kesehatan di hari tua. Meninggalkan rokok untuk menjaga paru-paru yang tinggal 35% berfungsi. Atau menjaga aktivitas karena fungsi hatinya sudah tergerogoti. Orang-orang ini paham betul ancaman yang akan menghampiri di masa tua.

Seperti itu pulalah orang yang meninggalkan larangan Allah dan rajin mengerjakan perintah-Nya. Hanya saja, visi hidupnya melebihi kehidupan dunia. Orang-orang seperti ini memiliki ketakutan akan kemurkaan Tuhannya di hari akhir nanti. Mereka khawatir hidupnya akan sia-sia di mata Tuhannya.

Dan bagi orang-orang yang tidak sempat tersentuh dakwah di masa hidupnya, kami mintakan ampunan dari Al-Ghoffar Yang Maha Pengampun sepanjang ia masih menyatakan keislamannya.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.